DAYAH ب GONG
TAREKAT AL-FATIHAH AL-MAJID
✶ ✶ ✶
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Syarah Kalam Mursyid
“Hidup adalah masalah, jangan tambah masalah, selesaikan masalah, tutup semua celah terjadi masalah, dan hiduplah dengan tabah bersama Allah yang mustahil salah.”
Kalam ini mengandung manhaj hidup yang sangat padat, singkat dalam lafaz, namun luas dalam makna. Ia bukan sekadar nasihat untuk menghadapi kesulitan, melainkan pedoman ruhani bagi seorang salik dalam memandang ujian, mengatur sikap batin, menempuh ikhtiar, dan meneguhkan tauhid kepada Allah. Setiap bagian dari kalam ini menyimpan pelajaran tentang hakikat dunia, adab menghadapi ujian, serta cara menempuh kehidupan dengan hati yang tetap terhubung kepada Tuhan.
1. “Hidup adalah masalah”
Maknanya, kehidupan dunia pada hakikatnya memang merupakan tempat ujian. Dunia bukan negeri istirahat, melainkan medan perjuangan, tempat manusia ditempa dengan berbagai bentuk cobaan, kekurangan, tekanan, dan ketidakpastian. Karena itu, orang yang berharap hidup tanpa masalah sesungguhnya belum memahami tabiat kehidupan dunia.
Dalam pandangan ruhani, masalah bukan semata-mata musibah, tetapi juga sarana pendidikan dari Allah. Melalui masalah, hati dibersihkan, jiwa dimatangkan, dan manusia dikembalikan kepada kesadaran akan kelemahan dirinya sebagai hamba. Ujian sering kali menjadi jalan agar manusia tidak tenggelam dalam kelalaian, tetapi kembali mengetuk pintu Allah dengan kerendahan hati.
Dengan demikian, kalimat ini mengajarkan penerimaan terhadap sunnatullah dalam kehidupan: bahwa selama manusia hidup di dunia, ia tidak akan lepas dari persoalan. Yang menjadi ukuran bukan ada atau tidak adanya masalah, melainkan bagaimana ia memandang, menerima, dan mengelolanya.
2. “Jangan tambah masalah”
Pada bagian ini, kalam mursyid mengarahkan perhatian kepada sumber beratnya ujian. Sering kali suatu masalah tidak menjadi besar karena masalah itu sendiri, tetapi karena reaksi manusia terhadapnya. Emosi yang tidak terkendali, kemarahan, prasangka buruk, putus asa, dendam, ego, dan sikap tergesa-gesa justru memperumit keadaan.
Masalah bisa datang dari luar diri, tetapi tambahan masalah kerap lahir dari dalam diri. Inilah yang menjadi perhatian utama dalam jalan tarekat: bukan hanya menghadapi keadaan, tetapi juga menata batin ketika berhadapan dengan keadaan tersebut. Hati yang tidak dijaga akan mudah memperkeruh persoalan yang sebenarnya masih dapat diselesaikan dengan tenang.
Pesan ini mengandung adab besar dalam suluk, yaitu agar seorang salik tidak membiarkan hawa nafsu mengambil alih kendali ketika ujian datang. Sebab, ketika nafsu memimpin, masalah kecil dapat membesar, sedangkan ketika hati berada dalam zikir dan kesadaran, masalah besar pun dapat dihadapi dengan kejernihan.
3. “Selesaikan masalah”
Bagian ini menunjukkan pentingnya ikhtiar. Jalan ruhani bukanlah jalan pasrah yang kosong dari usaha, melainkan jalan yang memadukan tawakal dengan tanggung jawab. Seorang hamba diperintahkan untuk tidak lari dari persoalan, tetapi menghadapinya dengan jujur, sabar, dan sungguh-sungguh.
Menyelesaikan masalah berarti berani melihat akar persoalan secara jernih, memperbaiki kesalahan yang ada, meminta maaf bila memang bersalah, serta menempuh usaha lahir dan batin secara seimbang. Usaha lahir dilakukan melalui tindakan nyata, sedangkan usaha batin dilakukan melalui doa, zikir, istighfar, dan permohonan pertolongan kepada Allah.
Dalam adab seorang salik, penyelesaian masalah bukan sekadar menyelesaikan urusan duniawi, tetapi juga membersihkan diri dari sikap-sikap yang menghalangi turunnya pertolongan Allah. Karena itu, menyelesaikan masalah adalah bagian dari ibadah, selama dilakukan dengan niat yang benar dan bersandar kepada-Nya.
4. “Tutup semua celah terjadi masalah”
Inilah salah satu bagian terdalam dari kalam tersebut. Tidak semua masalah muncul semata-mata karena keadaan luar; banyak di antaranya lahir dari celah-celah batin yang dibiarkan terbuka. Celah itu bisa berupa kesombongan, prasangka, kecintaan berlebihan kepada dunia, kelalaian dari Allah, ketidakjujuran terhadap diri sendiri, atau lemahnya penjagaan hati.
Selama celah-celah ini tidak ditutup, maka masalah akan terus berulang, meskipun bentuk luarnya berbeda-beda. Seseorang mungkin merasa telah menyelesaikan satu masalah, tetapi jika sumber batinnya belum dibersihkan, maka persoalan serupa akan datang kembali dalam rupa yang lain.
Karena itu, menutup celah berarti melakukan tazkiyatun nafs, yaitu membersihkan jiwa dari penyakit-penyakit batin, serta melatih muraqabah, yakni kesadaran terus-menerus bahwa Allah melihat segala gerak hati. Ini adalah inti pendidikan ruhani: bukan hanya memadamkan api persoalan, tetapi menutup jalan masuk yang membuat api itu terus menyala.
5. “Dan hiduplah dengan tabah bersama Allah”
Kalimat ini mengandung ajaran tentang keteguhan jiwa. Tabah bukan sekadar sabar dalam arti pasif, melainkan kekuatan untuk tetap berjalan di jalan Allah walau dalam keadaan sulit, terluka, atau tertatih. Ketabahan adalah sabar yang hidup, sabar yang bergerak, sabar yang tidak berhenti di keluhan, tetapi melanjutkan langkah dengan hati yang tetap teguh.
Ungkapan “bersama Allah” menunjukkan maqam ma‘iyyah, yaitu kesadaran bahwa seorang hamba tidak pernah sendiri dalam menjalani hidup. Saat seseorang benar-benar merasakan kebersamaan dengan Allah, maka beban hidup tidak lagi menghancurkan jiwanya. Masalah tetap ada, tetapi ia tidak lagi menjadi pusat segalanya, karena hati telah memiliki sandaran yang lebih besar daripada masalah itu sendiri.
Dalam maqam ini, ujian tidak lagi dipandang sebagai semata-mata gangguan, tetapi sebagai bagian dari perjalanan menuju kedewasaan ruhani. Hamba yang hidup bersama Allah akan belajar melihat setiap keadaan sebagai ruang untuk mendekat, bukan alasan untuk menjauh.
6. “Allah yang mustahil salah”
Inilah puncak tauhid dalam kalam ini. Manusia sering kali menilai suatu peristiwa berdasarkan keinginan dan pandangannya yang terbatas. Ketika kenyataan tidak sesuai harapan, ia mudah merasa seolah-olah ada yang tidak tepat dalam takdir yang menimpanya. Padahal, yang keliru bukanlah ketentuan Allah, melainkan cara pandang manusia yang sempit dalam membaca hikmah.
Meyakini bahwa Allah mustahil salah berarti meyakini kesempurnaan ilmu, hikmah, keadilan, dan kehendak-Nya. Apa pun yang Allah tetapkan, baik yang terasa manis maupun pahit, pasti mengandung maksud yang benar. Mungkin akal belum mampu menjangkaunya hari ini, tetapi dalam keluasan ilmu Allah tidak ada satu pun keputusan yang sia-sia.
Keyakinan ini melahirkan sikap ridha, tawakal, dan husnuzan billah. Hamba tidak lagi sibuk menggugat takdir, tetapi belajar menundukkan diri di hadapan kebijaksanaan Allah. Dari sinilah lahir ketenangan yang dalam, sebab ia tahu bahwa seluruh perjalanan hidupnya berada dalam pengaturan Tuhan yang Mahasempurna.
Kesimpulan Ruhani
Kalam ini sesungguhnya merupakan manhaj hidup seorang salik. Ia mengajarkan bahwa hidup di dunia adalah arena ujian yang tidak dapat dihindari. Karena itu, seorang hamba harus belajar menerima hakikat ujian, menahan nafsu agar tidak memperkeruh keadaan, berikhtiar menyelesaikan persoalan dengan sungguh-sungguh, dan membersihkan celah-celah batin agar masalah tidak terus berulang.
Di atas semua itu, kalam ini mengarahkan hati agar hidup dalam ketabahan bersama Allah dan berpegang teguh pada keyakinan bahwa Allah tidak pernah salah dalam menetapkan sesuatu. Dengan demikian, seorang salik tidak hanya menjadi orang yang kuat menghadapi masalah, tetapi juga menjadi hamba yang matang dalam tauhid, jernih dalam hati, dan benar dalam memandang seluruh jalan hidupnya.
Dayah ب Gong • Tarekat Alfatihah Al-Majid
Komentar ()
Tulis komentar →