DAYAH ب GONG
TAREKAT AL-FATIHAH AL-MAJID
✶
✶ ✶
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Amanah Harta dan Hakikat Mencari Rezeki
Syarah Kalam Hikmah Tarekat Al-Fatihah Al-Majid
Kalam Hikmah
"Barang siapa yang dititipkan harta oleh Allah, lalu
ia tidak menjaga dan tidak memanfaatkannya dengan baik, maka haram baginya
untuk mencari harta yang lain."
Di
zaman sekarang, banyak manusia berlomba-lomba mencari harta. Siang dan malam
dihabiskan untuk mengejar rezeki, seolah-olah kekurangan harta adalah masalah
utama dalam hidupnya. Namun kalam hikmah ini datang sebagai peringatan yang
sangat tajam dan sangat tepat sasaran: masalah manusia bukan karena tidak punya
harta, tetapi karena tidak amanah terhadap harta yang sudah ada di tangannya.
✶ ✶ ✶
Pendahuluan
Hubungan
manusia dengan harta adalah salah satu ujian terbesar yang Allah tetapkan dalam
kehidupan dunia. Harta bisa menjadi tangga menuju surga jika dikelola dengan
benar, dan bisa menjadi jalan menuju kehancuran jika disalahgunakan. Tidak ada
manusia yang bebas dari ujian ini — yang berbeda hanya kadar dan bentuknya.
Allah
berfirman dalam Surah At-Taghabun ayat 15:
إِنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ
وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ
"Sesungguhnya
hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala
yang besar."
(QS. At-Taghabun: 15)
Allah
sendiri menegaskan bahwa harta adalah fitnah — cobaan dan ujian. Ia bukan
tujuan, bukan tolak ukur kemuliaan, dan bukan penentu kebahagiaan. Ia adalah
ujian yang akan menentukan apakah manusia lulus atau tidak dalam mengemban
amanah yang Allah titipkan kepadanya.
✶ ✶ ✶
Harta Itu Titipan, Bukan Milik
Salah
satu perubahan pandangan yang paling mendasar yang harus terjadi dalam diri
seorang salik adalah pandangan tentang harta. Dalam pandangan hakikat yang
benar, harta bukanlah milik manusia — ia adalah titipan dari Allah yang
ditempatkan sementara di tangan manusia untuk diuji bagaimana ia mengelolanya.
Kita
sering berkata 'ini hartaku' dengan penuh keyakinan, padahal jika direnungkan
lebih dalam, keyakinan itu tidak memiliki dasar yang kuat. Kita tidak membawa
harta apapun saat lahir ke dunia, kita tidak bisa membawa satu sen pun saat
meninggalkan dunia, dan bahkan selama hidup di dunia pun kita tidak bisa
menjamin bahwa harta itu akan tetap bersama kita besok. Harta bisa hilang dalam
seketika — karena kebakaran, pencurian, kerugian bisnis, atau musibah lainnya.
Maka
posisi manusia terhadap harta hanyalah sebagai penjaga, bukan pemilik. Penjaga
yang diserahi tanggung jawab untuk menjaga titipan itu dengan sebaik-baiknya,
menggunakannya sesuai dengan kehendak Sang Pemilik yang sesungguhnya, dan pada
akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban tentang bagaimana ia menjalankan
tugasnya sebagai penjaga.
✶ ✶ ✶
Ketika Amanah Disia-siakan
Banyak
manusia yang selalu ingin tambahan rezeki, tetapi lupa untuk terlebih dahulu
melihat ke dalam dirinya sendiri dan bertanya dengan jujur: apakah harta yang
sudah ada selama ini sudah dijaga dengan benar? Apakah sudah digunakan di jalan
yang sesuai dengan ridha Allah? Apakah sudah memberikan manfaat yang semestinya
bagi diri, keluarga, dan orang-orang yang membutuhkan?
Jika
jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini belum memuaskan, maka keinginan untuk
mencari harta baru sesungguhnya hanyalah nafsu yang dibungkus dengan kebutuhan.
Bukan berarti mencari rezeki itu salah — mencari rezeki adalah kewajiban dan
ibadah. Tetapi mendahulukan pencarian rezeki baru sementara amanah atas rezeki
yang sudah ada belum dijalankan dengan benar adalah sebuah ketidakberesan yang
perlu diluruskan.
Allah
berfirman dalam Surah Al-Anfal ayat 27:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ
ءَامَنُوا۟ لَا تَخُونُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓا۟ أَمَٰنَٰتِكُمْ وَأَنتُمْ
تَعْلَمُونَ
"Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga)
janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan
kamu mengetahui."
(QS. Al-Anfal: 27)
Mengkhianati
amanah — termasuk amanah harta — adalah sesuatu yang Allah peringatkan dengan
sangat tegas. Dan pengkhianatan amanah harta bukan hanya berupa pencurian atau
penipuan, tetapi juga berupa pemborosan, penggunaan di jalan yang tidak
diridhai Allah, dan kelalaian dalam menjaga apa yang sudah dipercayakan.
✶ ✶ ✶
Makna "Haram" dalam Kalam Ini
Kata
haram dalam kalam hikmah ini perlu dipahami dalam konteks yang tepat — ia bukan
sekadar hukum fiqih yang berdiri sendiri, tetapi sebuah teguran ruhani yang
sangat dalam dan sangat keras. Ia adalah peringatan tentang ketidakpantasan dan
ketidakberesan dalam urutan prioritas kehidupan.
Maknanya
yang paling dalam adalah: selama amanah yang lama belum diselesaikan dengan
benar, maka tidak pantas dan tidak layak meminta amanah yang baru. Ini adalah
prinsip yang sangat logis dan sangat adil. Bayangkan seorang pekerja yang belum
menyelesaikan tugasnya yang pertama dengan baik, lalu meminta tugas yang lebih
besar dan lebih penting — tidak ada pemimpin yang bijak yang akan memberikan
kepercayaan lebih besar kepada orang yang belum bisa dipercaya dalam hal yang
lebih kecil.
Demikian
pula dalam hubungan antara hamba dan Allah. Orang yang belum bisa mengelola
harta yang sudah ada dengan baik, yang belum menjaganya dari pemborosan dan
penggunaan yang tidak semestinya — meminta tambahan harta kepada Allah seperti
seseorang yang meminta amanah baru sebelum yang lama selesai. Dan ini adalah
sebuah ketidakpantasan yang besar.
✶ ✶ ✶
Rezeki Itu Ujian, Bukan Tujuan
Pemahaman
yang paling mendasar yang perlu diluruskan tentang harta adalah bahwa ia adalah
alat ujian, bukan tujuan hidup. Harta yang ada bukan untuk dikejar tanpa batas,
bukan untuk dikumpulkan sebanyak-banyaknya, dan bukan untuk dijadikan tolak
ukur keberhasilan dan kemuliaan seseorang.
Ia
adalah ujian: apakah kita bersyukur kepada Allah atas apa yang diberikan atau
kufur dengan selalu merasa kurang? Apakah kita amanah dalam mengelolanya atau
khianat dengan menyia-nyiakannya? Dan yang paling penting: apakah harta yang
kita miliki mendekatkan kita kepada Allah atau justru menjauhkan?
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa yang ditanya tentang harta di
akhirat bukan seberapa banyak yang dikumpulkan, tetapi dari mana ia diperoleh
dan ke mana ia digunakan. Dua pertanyaan ini adalah inti dari amanah harta yang
harus dijalankan setiap Muslim dalam kehidupannya.
Orang
yang benar-benar memahami hal ini tidak akan sibuk mengejar harta tanpa henti,
tetapi akan lebih sibuk memperbaiki cara mengelola harta yang sudah ada —
memastikan bahwa setiap rupiah masuk dari jalan yang halal dan keluar ke jalan
yang Allah ridhai.
✶ ✶ ✶
Kaitannya dengan Manhaj Suluk 4M + 2B
Dalam
manhaj Tarekat Al-Fatihah Al-Majid, hubungan yang benar dengan harta adalah
bagian dari perjalanan ruhani yang tidak bisa dipisahkan. Setiap elemen dalam
metode 4M + 2B membantu seseorang untuk membangun hubungan yang sehat dan benar
dengan harta.
— Mencari
Mencari
rezeki dilakukan setelah amanah yang sudah ada diselesaikan dengan baik.
Mencari bukan karena dorongan nafsu yang tidak pernah puas, tetapi karena
kebutuhan yang nyata dan niat yang benar untuk menggunakan rezeki di jalan
Allah.
— Memahami
Memahami
fungsi harta yang sesungguhnya — bukan sekadar melihat jumlahnya, bukan
membandingkannya dengan milik orang lain, tetapi memahami bahwa ia adalah
amanah yang harus dipertanggungjawabkan dan ujian yang harus dilalui dengan
benar.
— Mengkaji
Secara
rutin mengevaluasi bagaimana harta digunakan — apakah sudah sesuai dengan
kehendak Allah? Apakah ada pemborosan yang perlu diperbaiki? Apakah hak-hak
orang lain dalam harta ini sudah ditunaikan? Kajian yang jujur ini adalah
bentuk muhasabah dalam urusan harta.
— Mendalami
Menyadari
secara semakin dalam bahwa harta adalah ujian dari Allah yang hasilnya akan
dipertanggungjawabkan, sehingga setiap keputusan tentang harta selalu dilandasi
oleh kesadaran ini dan bukan hanya oleh pertimbangan untung-rugi duniawi.
— Berpikir
Tafakkur
yang mendalam tentang hakikat harta menjaga seseorang agar tidak tertipu oleh
gemerlap dunia. Berpikir tentang pertanyaan yang akan dihadapi di akhirat
tentang harta adalah cara yang sangat efektif untuk menjaga amanah harta di
dunia.
— Berzikir
Zikir
menjaga hati agar selalu terhubung dengan Allah dalam urusan harta — sehingga
hati tidak dikuasai oleh keserakahan, tidak terhanyut oleh ambisi yang tidak
berujung, dan selalu ingat bahwa Allah adalah satu-satunya Pemilik yang
sesungguhnya.
✶ ✶ ✶
Penutup
Jangan
sibuk menambah harta sebelum mampu menjaga dan memanfaatkan dengan benar apa
yang sudah ada. Karena pada akhirnya, yang akan ditanya di hadapan Allah bukan
seberapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan selama hidup di dunia, tetapi
bagaimana harta itu dijaga, bagaimana ia diperoleh, dan bagaimana ia digunakan.
Semoga kita termasuk orang-orang yang amanah terhadap
setiap titipan Allah — tidak hanya pandai mencari, tetapi juga mampu menjaga
dan menggunakan sesuai kehendak-Nya. Karena di sanalah letak kemuliaan seorang
hamba di mata Allah.
Semoga
Allah membimbing kita untuk menjadi hamba yang amanah dalam setiap urusan,
terutama dalam urusan harta yang merupakan salah satu ujian terbesar dalam
kehidupan ini. Amin ya Rabbal 'alamin.
Dayah ب
Gong ·
Tarekat Al-Fatihah Al-Majid
Komentar ()
Tulis komentar →