Semua Kalam Hikmah Tasawuf Suluk Pengembangan Diri Spiritualitas

Kalam Hikmah : “Barang siapa yang dititipkan harta oleh Allah, lalu ia tidak menjaga dan tidak memanfaatkannya dengan baik, maka haram baginya untuk mencari harta yang lain.”

DAYAH ب GONG

TAREKAT AL-FATIHAH AL-MAJID

   

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Amanah Harta dan Hakikat Mencari Rezeki

Syarah Kalam Hikmah Tarekat Al-Fatihah Al-Majid

 

Kalam Hikmah

"Barang siapa yang dititipkan harta oleh Allah, lalu ia tidak menjaga dan tidak memanfaatkannya dengan baik, maka haram baginya untuk mencari harta yang lain."

Di zaman sekarang, banyak manusia berlomba-lomba mencari harta. Siang dan malam dihabiskan untuk mengejar rezeki, seolah-olah kekurangan harta adalah masalah utama dalam hidupnya. Namun kalam hikmah ini datang sebagai peringatan yang sangat tajam dan sangat tepat sasaran: masalah manusia bukan karena tidak punya harta, tetapi karena tidak amanah terhadap harta yang sudah ada di tangannya.

         

Pendahuluan

Hubungan manusia dengan harta adalah salah satu ujian terbesar yang Allah tetapkan dalam kehidupan dunia. Harta bisa menjadi tangga menuju surga jika dikelola dengan benar, dan bisa menjadi jalan menuju kehancuran jika disalahgunakan. Tidak ada manusia yang bebas dari ujian ini — yang berbeda hanya kadar dan bentuknya.

Allah berfirman dalam Surah At-Taghabun ayat 15:

إِنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ

"Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar."

(QS. At-Taghabun: 15)

Allah sendiri menegaskan bahwa harta adalah fitnah — cobaan dan ujian. Ia bukan tujuan, bukan tolak ukur kemuliaan, dan bukan penentu kebahagiaan. Ia adalah ujian yang akan menentukan apakah manusia lulus atau tidak dalam mengemban amanah yang Allah titipkan kepadanya.

         

Harta Itu Titipan, Bukan Milik

Salah satu perubahan pandangan yang paling mendasar yang harus terjadi dalam diri seorang salik adalah pandangan tentang harta. Dalam pandangan hakikat yang benar, harta bukanlah milik manusia — ia adalah titipan dari Allah yang ditempatkan sementara di tangan manusia untuk diuji bagaimana ia mengelolanya.

Kita sering berkata 'ini hartaku' dengan penuh keyakinan, padahal jika direnungkan lebih dalam, keyakinan itu tidak memiliki dasar yang kuat. Kita tidak membawa harta apapun saat lahir ke dunia, kita tidak bisa membawa satu sen pun saat meninggalkan dunia, dan bahkan selama hidup di dunia pun kita tidak bisa menjamin bahwa harta itu akan tetap bersama kita besok. Harta bisa hilang dalam seketika — karena kebakaran, pencurian, kerugian bisnis, atau musibah lainnya.

Maka posisi manusia terhadap harta hanyalah sebagai penjaga, bukan pemilik. Penjaga yang diserahi tanggung jawab untuk menjaga titipan itu dengan sebaik-baiknya, menggunakannya sesuai dengan kehendak Sang Pemilik yang sesungguhnya, dan pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban tentang bagaimana ia menjalankan tugasnya sebagai penjaga.

         

Ketika Amanah Disia-siakan

Banyak manusia yang selalu ingin tambahan rezeki, tetapi lupa untuk terlebih dahulu melihat ke dalam dirinya sendiri dan bertanya dengan jujur: apakah harta yang sudah ada selama ini sudah dijaga dengan benar? Apakah sudah digunakan di jalan yang sesuai dengan ridha Allah? Apakah sudah memberikan manfaat yang semestinya bagi diri, keluarga, dan orang-orang yang membutuhkan?

Jika jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini belum memuaskan, maka keinginan untuk mencari harta baru sesungguhnya hanyalah nafsu yang dibungkus dengan kebutuhan. Bukan berarti mencari rezeki itu salah — mencari rezeki adalah kewajiban dan ibadah. Tetapi mendahulukan pencarian rezeki baru sementara amanah atas rezeki yang sudah ada belum dijalankan dengan benar adalah sebuah ketidakberesan yang perlu diluruskan.

Allah berfirman dalam Surah Al-Anfal ayat 27:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَخُونُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓا۟ أَمَٰنَٰتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui."

(QS. Al-Anfal: 27)

Mengkhianati amanah — termasuk amanah harta — adalah sesuatu yang Allah peringatkan dengan sangat tegas. Dan pengkhianatan amanah harta bukan hanya berupa pencurian atau penipuan, tetapi juga berupa pemborosan, penggunaan di jalan yang tidak diridhai Allah, dan kelalaian dalam menjaga apa yang sudah dipercayakan.

         

Makna "Haram" dalam Kalam Ini

Kata haram dalam kalam hikmah ini perlu dipahami dalam konteks yang tepat — ia bukan sekadar hukum fiqih yang berdiri sendiri, tetapi sebuah teguran ruhani yang sangat dalam dan sangat keras. Ia adalah peringatan tentang ketidakpantasan dan ketidakberesan dalam urutan prioritas kehidupan.

Maknanya yang paling dalam adalah: selama amanah yang lama belum diselesaikan dengan benar, maka tidak pantas dan tidak layak meminta amanah yang baru. Ini adalah prinsip yang sangat logis dan sangat adil. Bayangkan seorang pekerja yang belum menyelesaikan tugasnya yang pertama dengan baik, lalu meminta tugas yang lebih besar dan lebih penting — tidak ada pemimpin yang bijak yang akan memberikan kepercayaan lebih besar kepada orang yang belum bisa dipercaya dalam hal yang lebih kecil.

Demikian pula dalam hubungan antara hamba dan Allah. Orang yang belum bisa mengelola harta yang sudah ada dengan baik, yang belum menjaganya dari pemborosan dan penggunaan yang tidak semestinya — meminta tambahan harta kepada Allah seperti seseorang yang meminta amanah baru sebelum yang lama selesai. Dan ini adalah sebuah ketidakpantasan yang besar.

         

Rezeki Itu Ujian, Bukan Tujuan

Pemahaman yang paling mendasar yang perlu diluruskan tentang harta adalah bahwa ia adalah alat ujian, bukan tujuan hidup. Harta yang ada bukan untuk dikejar tanpa batas, bukan untuk dikumpulkan sebanyak-banyaknya, dan bukan untuk dijadikan tolak ukur keberhasilan dan kemuliaan seseorang.

Ia adalah ujian: apakah kita bersyukur kepada Allah atas apa yang diberikan atau kufur dengan selalu merasa kurang? Apakah kita amanah dalam mengelolanya atau khianat dengan menyia-nyiakannya? Dan yang paling penting: apakah harta yang kita miliki mendekatkan kita kepada Allah atau justru menjauhkan?

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa yang ditanya tentang harta di akhirat bukan seberapa banyak yang dikumpulkan, tetapi dari mana ia diperoleh dan ke mana ia digunakan. Dua pertanyaan ini adalah inti dari amanah harta yang harus dijalankan setiap Muslim dalam kehidupannya.

Orang yang benar-benar memahami hal ini tidak akan sibuk mengejar harta tanpa henti, tetapi akan lebih sibuk memperbaiki cara mengelola harta yang sudah ada — memastikan bahwa setiap rupiah masuk dari jalan yang halal dan keluar ke jalan yang Allah ridhai.

         

Kaitannya dengan Manhaj Suluk 4M + 2B

Dalam manhaj Tarekat Al-Fatihah Al-Majid, hubungan yang benar dengan harta adalah bagian dari perjalanan ruhani yang tidak bisa dipisahkan. Setiap elemen dalam metode 4M + 2B membantu seseorang untuk membangun hubungan yang sehat dan benar dengan harta.

 

  Mencari

Mencari rezeki dilakukan setelah amanah yang sudah ada diselesaikan dengan baik. Mencari bukan karena dorongan nafsu yang tidak pernah puas, tetapi karena kebutuhan yang nyata dan niat yang benar untuk menggunakan rezeki di jalan Allah.

  Memahami

Memahami fungsi harta yang sesungguhnya — bukan sekadar melihat jumlahnya, bukan membandingkannya dengan milik orang lain, tetapi memahami bahwa ia adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan dan ujian yang harus dilalui dengan benar.

  Mengkaji

Secara rutin mengevaluasi bagaimana harta digunakan — apakah sudah sesuai dengan kehendak Allah? Apakah ada pemborosan yang perlu diperbaiki? Apakah hak-hak orang lain dalam harta ini sudah ditunaikan? Kajian yang jujur ini adalah bentuk muhasabah dalam urusan harta.

  Mendalami

Menyadari secara semakin dalam bahwa harta adalah ujian dari Allah yang hasilnya akan dipertanggungjawabkan, sehingga setiap keputusan tentang harta selalu dilandasi oleh kesadaran ini dan bukan hanya oleh pertimbangan untung-rugi duniawi.

  Berpikir

Tafakkur yang mendalam tentang hakikat harta menjaga seseorang agar tidak tertipu oleh gemerlap dunia. Berpikir tentang pertanyaan yang akan dihadapi di akhirat tentang harta adalah cara yang sangat efektif untuk menjaga amanah harta di dunia.

  Berzikir

Zikir menjaga hati agar selalu terhubung dengan Allah dalam urusan harta — sehingga hati tidak dikuasai oleh keserakahan, tidak terhanyut oleh ambisi yang tidak berujung, dan selalu ingat bahwa Allah adalah satu-satunya Pemilik yang sesungguhnya.

         

Penutup

Jangan sibuk menambah harta sebelum mampu menjaga dan memanfaatkan dengan benar apa yang sudah ada. Karena pada akhirnya, yang akan ditanya di hadapan Allah bukan seberapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan selama hidup di dunia, tetapi bagaimana harta itu dijaga, bagaimana ia diperoleh, dan bagaimana ia digunakan.

Semoga kita termasuk orang-orang yang amanah terhadap setiap titipan Allah — tidak hanya pandai mencari, tetapi juga mampu menjaga dan menggunakan sesuai kehendak-Nya. Karena di sanalah letak kemuliaan seorang hamba di mata Allah.

Semoga Allah membimbing kita untuk menjadi hamba yang amanah dalam setiap urusan, terutama dalam urusan harta yang merupakan salah satu ujian terbesar dalam kehidupan ini. Amin ya Rabbal 'alamin.

 

Dayah ب Gong  ·  Tarekat Al-Fatihah Al-Majid


Komentar ()

Tulis komentar →