Semua Kalam Hikmah Tasawuf Suluk Pengembangan Diri Spiritualitas

Mengapa Ilmu Makrifat Ditakuti Dunia?

DAYAH ب GONG

TAREKAT AL-FATIHAH AL-MAJID

    

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Mengapa Ilmu Makrifat Ditakuti Dunia?

Sebuah Renungan dalam Perjalanan Menuju Makrifatullah

 

Pendahuluan

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang dipenuhi ambisi, kekuasaan, dan kepentingan, ada satu ilmu yang sering disalahpahami, bahkan ditakuti oleh banyak kalangan: ilmu makrifat. Padahal makrifat bukanlah ajaran yang menyimpang, bukan pula sesuatu yang harus dijauhi atau dikhawatirkan. Ia justru merupakan puncak dari perjalanan seorang hamba dalam mengenal Allah — puncak yang semestinya menjadi tujuan setiap Muslim yang benar-benar ingin dekat dengan Tuhannya.

Lalu mengapa ilmu yang mulia dan agung ini justru terasa asing, dicurigai, bahkan menimbulkan ketakutan di benak sebagian orang? Ada beberapa jawaban yang perlu direnungkan dengan jujur dan terbuka.

Allah berfirman dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11:

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat."

(QS. Al-Mujadilah: 11)

Ilmu — termasuk ilmu makrifat yang merupakan pengenalan hati kepada Allah — adalah sesuatu yang Allah muliakan. Maka ketakutan terhadap ilmu ini sesungguhnya adalah ketakutan yang tidak beralasan, kecuali jika memang ada kepentingan tertentu yang merasa terancam olehnya.

         

Makrifat Membebaskan Manusia dari Belenggu Dunia

Salah satu sebab terbesar mengapa ilmu makrifat terasa mengancam bagi sebagian pihak adalah karena makrifat membebaskan manusia dari ketergantungan kepada dunia. Seorang hamba yang telah mencapai makrifat tidak lagi takut miskin dengan ketakutan yang memperbudak, tidak tergila-gila mengejar jabatan dan kekuasaan, dan tidak mudah diperbudak oleh keinginan dan kesenangan. Hatinya telah tertambat kepada Allah — dan ketika hati sudah tertambat kepada Allah, maka tidak ada lagi benda atau keadaan duniawi yang bisa memperbudaknya.

Di sinilah letak 'ketakutan' dunia terhadap makrifat. Dunia bergerak dan berjalan dengan memanfaatkan tiga hal utama dalam diri manusia: ketakutan, ambisi, dan keinginan. Ketakutan akan kehilangan, ambisi untuk mendapatkan lebih, dan keinginan yang tidak pernah berhenti — inilah tiga tuas penggerak yang digunakan dunia untuk mengendalikan manusia. Namun ketika seseorang telah terbebas dari ketiga hal itu melalui makrifat, maka ia tidak lagi mudah dikendalikan oleh siapapun selain Allah.

         

Makrifat Membongkar Kepalsuan

Orang yang berjalan di jalan makrifat dengan benar tidak hanya melihat agama dari sisi lahirnya saja — dari ibadah yang tampak, dari perkataan yang manis, dari penampilan yang meyakinkan. Ia juga memahami makna dan hakikat dari semua itu, dan karenanya ia mampu membedakan mana yang benar-benar ikhlas karena Allah dan mana yang hanya tampak baik di luar sementara di dalamnya kosong atau bahkan terdapat kepentingan tersembunyi.

Kemampuan ini membuat sebagian orang merasa tidak nyaman. Topeng-topeng kepalsuan yang selama ini terjaga rapi bisa terbuka di hadapan orang yang berbasirah — yang mata hatinya sudah jernih. Orang yang menggunakan agama sebagai alat, yang menampilkan kesalehan sebagai modal sosial, atau yang menjadikan ilmu sebagai tangga jabatan — semua itu akan terlihat jelas oleh hati yang sudah terjernihkan oleh makrifat.

Inilah yang Allah firmankan dalam Surah Al-Hujurat ayat 13, bahwa yang paling mulia di sisi Allah bukanlah yang paling banyak tampil atau paling terkenal, tetapi yang paling bertakwa — dan makrifat adalah puncak dari ketakwaan.

         

Makrifat Tidak Bisa Dikontrol atau Dipolitisasi

Ilmu-ilmu duniawi bisa diatur dengan sangat terstruktur — ada kurikulum yang ditetapkan, ada batasan yang ditentukan, ada pengakuan resmi yang diberikan oleh lembaga. Semua itu memungkinkan ilmu duniawi untuk dikontrol, diarahkan, dan bahkan dipolitisasi sesuai kepentingan tertentu.

Namun makrifat berbeda secara mendasar. Makrifat adalah cahaya yang Allah anugerahkan langsung kepada hati hamba yang dikehendaki-Nya, pengalaman batin yang tidak bisa dipaksakan oleh kurikulum apapun, dan rasa yang hanya Allah yang bisa memberikannya. Tidak ada sertifikat makrifat, tidak ada lembaga yang bisa menerbitkan pengakuan makrifat, dan tidak ada kekuatan duniawi yang bisa menghentikan cahaya makrifat dari masuk ke dalam hati yang dikehendaki Allah.

Karena itu, makrifat tidak bisa dipolitisasi atau dijadikan alat kepentingan kelompok. Ia adalah domain Allah semata. Dan inilah yang membuat sebagian pihak merasa tidak berdaya di hadapan ilmu ini.

         

Bahaya: Banyak yang Salah Mengaku Makrifat

Salah satu sebab terbesar mengapa makrifat sering ditakuti dan dicurigai adalah karena banyak orang yang salah memahaminya, bahkan salah mengakuinya. Ada yang mengaku sudah sampai kepada makrifat lalu merasa bebas dari kewajiban syariat. Ada yang merasa sudah sangat dekat dengan Allah lalu menjadi sombong dan memandang rendah orang lain. Ada yang menggunakan klaim makrifat untuk mendapatkan pengikut atau keistimewaan sosial.

Padahal semua itu sama sekali bukan makrifat. Itu adalah tipuan nafsu yang menyamar dalam jubah agama — dan ia jauh lebih berbahaya dari kekafiran yang terang-terangan, karena ia bersembunyi di balik nama yang mulia.

Makrifat yang benar justru menunjukkan tanda-tanda yang berlawanan. Allah berfirman dalam Surah Fathir ayat 28:

إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama."

(QS. Fathir: 28)

Semakin seseorang mengenal Allah dengan benar, semakin bertambah rasa takutnya kepada Allah — bukan semakin berkurang. Semakin dalam makrifatnya, semakin taat ia kepada syariat, semakin rendah hatinya di hadapan Allah dan sesama manusia, dan semakin jauh ia dari kesombongan. Jika yang terjadi sebaliknya, maka itu adalah tanda bahaya yang harus segera diwaspadai.

         

Makrifat Mengubah Cara Pandang Secara Total

Makrifat bukan sekadar penambahan ilmu di kepala. Ia adalah perubahan total dalam cara seseorang melihat dan memahami kehidupan. Dunia yang dulu tampak sebagai tujuan akhir yang harus diperjuangkan habis-habisan, setelah makrifat tampak hanyalah sebagai sarana sementara yang harus digunakan dengan benar. Allah menjadi satu-satunya tujuan sejati yang mengarahkan seluruh langkah dan keputusan dalam hidup.

Orang yang telah mencapai makrifat tidak bisa dibeli dengan dunia, tidak bisa ditakuti dengan ancaman kehilangan harta atau jabatan, dan tidak bisa digoda dengan kemewahan atau kesenangan. Hatinya sudah memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga dari semua itu — yaitu pengenalan kepada Allah dan kedekatan kepada-Nya. Dan tidak ada tawaran dunia yang mampu menandingi nilai dari apa yang sudah ia miliki.

Inilah yang membuat dunia 'takut' terhadap orang yang benar-benar telah sampai kepada makrifat — karena ia tidak bisa dimanfaatkan, tidak bisa dikendalikan, dan tidak bisa dibeli oleh kepentingan apapun selain Allah.

         

Penutup: Jalan yang Halus dan Penuh Ujian

Makrifat adalah jalan yang sangat halus dan penuh ujian yang tidak sederhana. Ia bukan hanya tentang merasa dekat dengan Allah atau merasakan pengalaman batin yang indah. Ia adalah tentang menghancurkan ego yang selama ini menjadi dinding tebal antara hamba dan Allah, membersihkan hati dari segala penyakit dan kotoran batin yang menghalangi cahaya masuk, dan tunduk sepenuhnya kepada Allah dalam setiap keadaan — baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan.

Prinsip yang harus selalu dijaga adalah: semakin seseorang dekat kepada Allah, seharusnya semakin ia merasa kecil dan hina di hadapan keagungan Allah, semakin ia merasa butuh dan bergantung kepada rahmat-Nya, dan semakin ia menjaga syariat dengan ketat dan penuh rasa hormat. Jika tidak demikian — jika kedekatan yang dirasakan justru melahirkan kesombongan, pengabaian syariat, atau rasa sudah cukup — maka perlu sangat berhati-hati. Bisa jadi itu bukan makrifat, tetapi ilusi yang diciptakan oleh nafsu.

         

Renungan

Makrifat tidak pernah berbahaya. Yang berbahaya adalah hati yang belum benar-benar bersih ketika mendekati ilmu yang tinggi ini, ilmu yang tidak dibimbing oleh guru yang benar sehingga mudah tersesat di tengah jalan, dan nafsu yang pintar menyamar sebagai cahaya sehingga seseorang mengira sudah sampai padahal masih jauh.

Maka berjalanlah menuju makrifat dengan bekal yang lengkap dan benar: ilmu yang kokoh sebagai pegangan, zikir yang konsisten sebagai penjaga hati, bimbingan guru yang amanah sebagai penunjuk jalan, dan kejujuran hati terhadap diri sendiri yang tidak pernah berhenti. Karena tujuan akhir dari seluruh perjalanan ini bukan sekadar mengetahui tentang Allah, tetapi benar-benar kembali kepada-Nya dengan selamat — dengan hati yang bersih, dengan iman yang kokoh, dan dengan akhlak yang mulia.

Jika engkau sudah mulai merasakan kehadiran Allah dalam hidupmu, jagalah itu dengan rendah hati dan dengan semakin ketat menjaga syariat. Karena semakin tinggi seseorang naik dalam perjalanan ruhani, semakin licin pula jalan yang ia lalui — dan satu langkah yang tidak hati-hati bisa menjatuhkan jauh lebih dalam dari sebelum ia mulai naik.

Semoga Allah membimbing kita semua dalam perjalanan menuju makrifat yang benar — makrifat yang menguatkan tauhid, memperindah akhlak, dan mendekatkan kepada-Nya dengan cara yang Ia ridhai. Amin ya Rabbal 'alamin.

 

Dayah ب Gong  ·  Tarekat Al-Fatihah Al-Majid


Komentar ()

Tulis komentar →