DAYAH ب GONG
TAREKAT AL-FATIHAH AL-MAJID
✶ ✶ ✶
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Mengapa Ilmu Makrifat Ditakuti Dunia?
Sebuah Renungan dalam Perjalanan Menuju Makrifatullah
Pendahuluan
Di
tengah hiruk-pikuk dunia yang dipenuhi ambisi, kekuasaan, dan kepentingan, ada
satu ilmu yang sering disalahpahami, bahkan ditakuti oleh banyak kalangan: ilmu
makrifat. Padahal makrifat bukanlah ajaran yang menyimpang, bukan pula sesuatu
yang harus dijauhi atau dikhawatirkan. Ia justru merupakan puncak dari
perjalanan seorang hamba dalam mengenal Allah — puncak yang semestinya menjadi
tujuan setiap Muslim yang benar-benar ingin dekat dengan Tuhannya.
Lalu
mengapa ilmu yang mulia dan agung ini justru terasa asing, dicurigai, bahkan
menimbulkan ketakutan di benak sebagian orang? Ada beberapa jawaban yang perlu
direnungkan dengan jujur dan terbuka.
Allah
berfirman dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11:
يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ
ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ
"Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat."
(QS. Al-Mujadilah: 11)
Ilmu
— termasuk ilmu makrifat yang merupakan pengenalan hati kepada Allah — adalah
sesuatu yang Allah muliakan. Maka ketakutan terhadap ilmu ini sesungguhnya
adalah ketakutan yang tidak beralasan, kecuali jika memang ada kepentingan
tertentu yang merasa terancam olehnya.
✶ ✶ ✶
Makrifat Membebaskan Manusia dari Belenggu Dunia
Salah
satu sebab terbesar mengapa ilmu makrifat terasa mengancam bagi sebagian pihak
adalah karena makrifat membebaskan manusia dari ketergantungan kepada dunia.
Seorang hamba yang telah mencapai makrifat tidak lagi takut miskin dengan
ketakutan yang memperbudak, tidak tergila-gila mengejar jabatan dan kekuasaan,
dan tidak mudah diperbudak oleh keinginan dan kesenangan. Hatinya telah
tertambat kepada Allah — dan ketika hati sudah tertambat kepada Allah, maka
tidak ada lagi benda atau keadaan duniawi yang bisa memperbudaknya.
Di
sinilah letak 'ketakutan' dunia terhadap makrifat. Dunia bergerak dan berjalan
dengan memanfaatkan tiga hal utama dalam diri manusia: ketakutan, ambisi, dan
keinginan. Ketakutan akan kehilangan, ambisi untuk mendapatkan lebih, dan
keinginan yang tidak pernah berhenti — inilah tiga tuas penggerak yang
digunakan dunia untuk mengendalikan manusia. Namun ketika seseorang telah
terbebas dari ketiga hal itu melalui makrifat, maka ia tidak lagi mudah
dikendalikan oleh siapapun selain Allah.
✶ ✶ ✶
Makrifat Membongkar Kepalsuan
Orang
yang berjalan di jalan makrifat dengan benar tidak hanya melihat agama dari
sisi lahirnya saja — dari ibadah yang tampak, dari perkataan yang manis, dari
penampilan yang meyakinkan. Ia juga memahami makna dan hakikat dari semua itu,
dan karenanya ia mampu membedakan mana yang benar-benar ikhlas karena Allah dan
mana yang hanya tampak baik di luar sementara di dalamnya kosong atau bahkan
terdapat kepentingan tersembunyi.
Kemampuan
ini membuat sebagian orang merasa tidak nyaman. Topeng-topeng kepalsuan yang
selama ini terjaga rapi bisa terbuka di hadapan orang yang berbasirah — yang
mata hatinya sudah jernih. Orang yang menggunakan agama sebagai alat, yang
menampilkan kesalehan sebagai modal sosial, atau yang menjadikan ilmu sebagai
tangga jabatan — semua itu akan terlihat jelas oleh hati yang sudah
terjernihkan oleh makrifat.
Inilah
yang Allah firmankan dalam Surah Al-Hujurat ayat 13, bahwa yang paling mulia di
sisi Allah bukanlah yang paling banyak tampil atau paling terkenal, tetapi yang
paling bertakwa — dan makrifat adalah puncak dari ketakwaan.
✶ ✶ ✶
Makrifat Tidak Bisa Dikontrol atau Dipolitisasi
Ilmu-ilmu
duniawi bisa diatur dengan sangat terstruktur — ada kurikulum yang ditetapkan,
ada batasan yang ditentukan, ada pengakuan resmi yang diberikan oleh lembaga.
Semua itu memungkinkan ilmu duniawi untuk dikontrol, diarahkan, dan bahkan
dipolitisasi sesuai kepentingan tertentu.
Namun
makrifat berbeda secara mendasar. Makrifat adalah cahaya yang Allah anugerahkan
langsung kepada hati hamba yang dikehendaki-Nya, pengalaman batin yang tidak
bisa dipaksakan oleh kurikulum apapun, dan rasa yang hanya Allah yang bisa
memberikannya. Tidak ada sertifikat makrifat, tidak ada lembaga yang bisa
menerbitkan pengakuan makrifat, dan tidak ada kekuatan duniawi yang bisa
menghentikan cahaya makrifat dari masuk ke dalam hati yang dikehendaki Allah.
Karena
itu, makrifat tidak bisa dipolitisasi atau dijadikan alat kepentingan kelompok.
Ia adalah domain Allah semata. Dan inilah yang membuat sebagian pihak merasa
tidak berdaya di hadapan ilmu ini.
✶ ✶ ✶
Bahaya: Banyak yang Salah Mengaku Makrifat
Salah
satu sebab terbesar mengapa makrifat sering ditakuti dan dicurigai adalah
karena banyak orang yang salah memahaminya, bahkan salah mengakuinya. Ada yang
mengaku sudah sampai kepada makrifat lalu merasa bebas dari kewajiban syariat.
Ada yang merasa sudah sangat dekat dengan Allah lalu menjadi sombong dan
memandang rendah orang lain. Ada yang menggunakan klaim makrifat untuk
mendapatkan pengikut atau keistimewaan sosial.
Padahal
semua itu sama sekali bukan makrifat. Itu adalah tipuan nafsu yang menyamar
dalam jubah agama — dan ia jauh lebih berbahaya dari kekafiran yang
terang-terangan, karena ia bersembunyi di balik nama yang mulia.
Makrifat
yang benar justru menunjukkan tanda-tanda yang berlawanan. Allah berfirman
dalam Surah Fathir ayat 28:
إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ
مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟
"Sesungguhnya yang
takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama."
(QS. Fathir: 28)
Semakin
seseorang mengenal Allah dengan benar, semakin bertambah rasa takutnya kepada
Allah — bukan semakin berkurang. Semakin dalam makrifatnya, semakin taat ia
kepada syariat, semakin rendah hatinya di hadapan Allah dan sesama manusia, dan
semakin jauh ia dari kesombongan. Jika yang terjadi sebaliknya, maka itu adalah
tanda bahaya yang harus segera diwaspadai.
✶ ✶ ✶
Makrifat Mengubah Cara Pandang Secara Total
Makrifat
bukan sekadar penambahan ilmu di kepala. Ia adalah perubahan total dalam cara
seseorang melihat dan memahami kehidupan. Dunia yang dulu tampak sebagai tujuan
akhir yang harus diperjuangkan habis-habisan, setelah makrifat tampak hanyalah
sebagai sarana sementara yang harus digunakan dengan benar. Allah menjadi
satu-satunya tujuan sejati yang mengarahkan seluruh langkah dan keputusan dalam
hidup.
Orang
yang telah mencapai makrifat tidak bisa dibeli dengan dunia, tidak bisa
ditakuti dengan ancaman kehilangan harta atau jabatan, dan tidak bisa digoda
dengan kemewahan atau kesenangan. Hatinya sudah memiliki sesuatu yang jauh
lebih berharga dari semua itu — yaitu pengenalan kepada Allah dan kedekatan
kepada-Nya. Dan tidak ada tawaran dunia yang mampu menandingi nilai dari apa
yang sudah ia miliki.
Inilah
yang membuat dunia 'takut' terhadap orang yang benar-benar telah sampai kepada
makrifat — karena ia tidak bisa dimanfaatkan, tidak bisa dikendalikan, dan
tidak bisa dibeli oleh kepentingan apapun selain Allah.
✶ ✶ ✶
Penutup: Jalan yang Halus dan Penuh Ujian
Makrifat
adalah jalan yang sangat halus dan penuh ujian yang tidak sederhana. Ia bukan
hanya tentang merasa dekat dengan Allah atau merasakan pengalaman batin yang
indah. Ia adalah tentang menghancurkan ego yang selama ini menjadi dinding
tebal antara hamba dan Allah, membersihkan hati dari segala penyakit dan
kotoran batin yang menghalangi cahaya masuk, dan tunduk sepenuhnya kepada Allah
dalam setiap keadaan — baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan.
Prinsip
yang harus selalu dijaga adalah: semakin seseorang dekat kepada Allah,
seharusnya semakin ia merasa kecil dan hina di hadapan keagungan Allah, semakin
ia merasa butuh dan bergantung kepada rahmat-Nya, dan semakin ia menjaga
syariat dengan ketat dan penuh rasa hormat. Jika tidak demikian — jika
kedekatan yang dirasakan justru melahirkan kesombongan, pengabaian syariat,
atau rasa sudah cukup — maka perlu sangat berhati-hati. Bisa jadi itu bukan
makrifat, tetapi ilusi yang diciptakan oleh nafsu.
✶ ✶ ✶
Renungan
Makrifat
tidak pernah berbahaya. Yang berbahaya adalah hati yang belum benar-benar
bersih ketika mendekati ilmu yang tinggi ini, ilmu yang tidak dibimbing oleh
guru yang benar sehingga mudah tersesat di tengah jalan, dan nafsu yang pintar
menyamar sebagai cahaya sehingga seseorang mengira sudah sampai padahal masih
jauh.
Maka
berjalanlah menuju makrifat dengan bekal yang lengkap dan benar: ilmu yang
kokoh sebagai pegangan, zikir yang konsisten sebagai penjaga hati, bimbingan
guru yang amanah sebagai penunjuk jalan, dan kejujuran hati terhadap diri
sendiri yang tidak pernah berhenti. Karena tujuan akhir dari seluruh perjalanan
ini bukan sekadar mengetahui tentang Allah, tetapi benar-benar kembali
kepada-Nya dengan selamat — dengan hati yang bersih, dengan iman yang kokoh,
dan dengan akhlak yang mulia.
Jika engkau sudah mulai merasakan kehadiran Allah dalam
hidupmu, jagalah itu dengan rendah hati dan dengan semakin ketat menjaga
syariat. Karena semakin tinggi seseorang naik dalam perjalanan ruhani, semakin
licin pula jalan yang ia lalui — dan satu langkah yang tidak hati-hati bisa
menjatuhkan jauh lebih dalam dari sebelum ia mulai naik.
Semoga
Allah membimbing kita semua dalam perjalanan menuju makrifat yang benar —
makrifat yang menguatkan tauhid, memperindah akhlak, dan mendekatkan kepada-Nya
dengan cara yang Ia ridhai. Amin ya Rabbal 'alamin.
Dayah ب
Gong ·
Tarekat Al-Fatihah Al-Majid
Komentar ()
Tulis komentar →