DAYAH ب GONG
TAREKAT AL-FATIHAH AL-MAJID
✶ ✶ ✶
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Kalam Hikmah: Lupa Diri, Awal Kesesatan
“Manusia yang sesat adalah manusia yang lupa sejarah akan dirinya.”
Pendahuluan
Kalam ini mengandung peringatan yang sangat mendalam: bahwa kesesatan bukan selalu karena kurangnya ilmu, tetapi karena lupanya manusia terhadap asal-usul dan perjalanan dirinya sendiri.
Ketika manusia kehilangan ingatan ruhani tentang siapa dirinya, dari mana ia datang, dan ke mana ia akan kembali, maka pada saat itulah ia mulai kehilangan arah hidup.
1. Lupa Asal Usul Penciptaan
Manusia berasal dari sesuatu yang hina, lalu dimuliakan dengan ruh dari Allah. Namun ketika ia melupakan asal-usulnya, ia akan mudah jatuh dalam kesombongan dan kelalaian.
Ia tidak lagi melihat hidup sebagai amanah, melainkan sekadar kesempatan untuk memenuhi hawa nafsu.
Sebagaimana firman Allah:
“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban?”
(QS. Al-Qiyamah: 36)
Lupa asal adalah awal dari hilangnya tujuan.
2. Lupa Sejarah Dosa dan Taubat
Setiap manusia memiliki masa lalu—kesalahan, dosa, dan juga momen taubat. Namun ketika seseorang melupakan semua itu, ia kehilangan pelajaran berharga dari hidupnya sendiri.
Akibatnya:
Ia mudah mengulangi kesalahan yang sama
Hatinya menjadi keras
Muncul rasa merasa diri sudah baik
Padahal, ingatan terhadap dosa bukan untuk membuat putus asa, tetapi untuk menumbuhkan kerendahan hati dan kedekatan kepada Allah.
3. Lupa Perjanjian di Alam Ruh
Sebelum hadir di dunia, setiap jiwa telah bersaksi bahwa Allah adalah Tuhannya. Ini adalah perjanjian agung yang tertanam dalam fitrah manusia.
“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’
(QS. Al-A’raf: 172)
Melupakan perjanjian ini berarti melupakan arah pulang.
Dan ketika arah hilang, maka kehidupan pun menjadi tanpa tujuan.
4. Lupa Perjalanan Hidup Sendiri
Banyak manusia menjalani hidup tanpa pernah merenung:
Mengapa ia diuji
Dari mana datangnya pertolongan
Apa makna di balik setiap kejadian
Padahal, setiap peristiwa dalam hidup adalah bentuk tarbiyah (didikan) dari Allah.
Orang yang tidak merenung akan hidup di permukaan—
terombang-ambing oleh keadaan, tanpa memahami hikmah di dalamnya.
Refleksi Ruhani
Melupakan sejarah diri adalah kehilangan identitas ruhani.
Dan dalam dunia tasawuf dikenal satu kaidah:
“Siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”
Sebaliknya, siapa yang lupa dirinya, maka ia akan jauh dari pengenalan terhadap Allah.
Penutup
Allah telah mengingatkan:
“Janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.”
(QS. Al-Hasyr: 19)
Kalam ini bukan sekadar nasihat, tetapi ajakan untuk kembali:
Mengingat asal-usul
Merenungi perjalanan
Menyadari tujuan
Karena hakikatnya,
jalan menuju Allah dimulai dari mengenal diri sendiri.
Dan siapa yang kembali mengenal dirinya,
maka ia tidak akan tersesat dalam hidupnya. 🌿
Dayah ب Gong • Tarekat Alfatihah Al-Majid
Komentar ()
Tulis komentar →