DAYAH ب GONG
TAREKAT AL-FATIHAH AL-MAJID
✶ ✶ ✶
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
“Aku adalah Perbendaharaan yang Tersembunyi”
Rahasia Penciptaan dan Tajalli Ilahi dalam Perspektif Tasawuf
Di dalam khazanah tasawuf, terdapat sebuah ungkapan yang sangat masyhur dan sering dijadikan bahan perenungan tentang rahasia penciptaan manusia dan alam semesta. Ungkapan tersebut berbunyi:
“Kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtu an u‘rafa fa khalaqtu al-khalq.”
“Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, lalu Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan makhluk.”
Ungkapan ini dikenal dalam tradisi tasawuf sebagai hadis qudsi, meskipun para ulama hadis menyatakan bahwa sanadnya tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadis yang muktabar seperti Shahih Bukhari atau Muslim.
Namun demikian, banyak ulama tasawuf tetap menggunakan ungkapan ini sebagai ungkapan hikmah, karena maknanya dianggap sejalan dengan ajaran tauhid dan tujuan spiritual manusia dalam mengenal Allah (ma‘rifatullah).
Melalui ungkapan ini, para sufi mencoba menjelaskan bahwa penciptaan bukan sekadar peristiwa kosmik, tetapi memiliki rahasia yang sangat dalam dalam hubungan antara Tuhan dan makhluk.
🌿 Makna “Perbendaharaan yang Tersembunyi”
Bagian pertama dari ungkapan tersebut berbunyi:
“Kuntu kanzan makhfiyyan”
“Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi.”
Dalam pemahaman tasawuf, “perbendaharaan” di sini bukanlah harta dalam pengertian duniawi.
Yang dimaksud adalah kesempurnaan Zat Allah beserta seluruh keindahan sifat-sifat-Nya.
Allah memiliki sifat-sifat kesempurnaan seperti:
Maha Indah
Maha Pengasih
Maha Mengetahui
Maha Agung
Namun sebelum adanya makhluk, kesempurnaan tersebut belum dikenal oleh siapa pun, karena belum ada makhluk yang menyaksikan atau merasakannya.
Karena itu para sufi menyebutnya sebagai “perbendaharaan yang tersembunyi” — bukan karena Allah tersembunyi dalam arti tempat, tetapi karena belum ada yang mengenal-Nya.
🌿 “Aku Ingin Dikenal”: Rahasia Cinta Ilahi
Bagian berikutnya dari ungkapan tersebut adalah:
“Fa ahbabtu an u‘rafa”
“Aku ingin dikenal.”
Dalam pemahaman tasawuf, kalimat ini tidak berarti bahwa Allah membutuhkan pengenalan dari makhluk.
Allah adalah Maha Kaya dan tidak membutuhkan apa pun dari ciptaan-Nya.
Namun ungkapan ini dipahami sebagai isyarat tentang kehendak Ilahi untuk memperkenalkan diri-Nya kepada makhluk.
Para sufi sering menafsirkan bagian ini sebagai rahasia cinta Ilahi.
Artinya, penciptaan alam semesta bukan hanya manifestasi kekuasaan Tuhan, tetapi juga penampakan rahmat dan cinta-Nya.
Karena itu banyak ulama tasawuf mengatakan:
🌿 Dasar dari penciptaan adalah rahmat dan cinta Ilahi, bukan kebutuhan.
🌿 “Maka Aku Ciptakan Makhluk”: Alam sebagai Cermin Tajalli
Bagian terakhir dari ungkapan tersebut berbunyi:
“Fa khalaqtu al-khalq.”
“Maka Aku ciptakan makhluk.”
Dalam perspektif tasawuf, makhluk diciptakan sebagai cermin tajalli, yaitu tempat tampaknya tanda-tanda keagungan Allah.
Di sinilah muncul konsep penting dalam tasawuf yang disebut tajalli.
Secara bahasa, tajalli berarti tersingkapnya sesuatu yang sebelumnya tersembunyi.
Dalam pemahaman para sufi, tajalli adalah penampakan tanda-tanda kebesaran Allah dalam alam semesta dan dalam hati manusia.
Langit, bumi, gunung, laut, bahkan diri manusia sendiri dipandang sebagai ayat-ayat yang menunjukkan sifat-sifat Allah.
🌿 Tingkatan Tajalli dalam Tasawuf
Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa tajalli dapat dipahami dalam tiga tingkatan utama, yaitu:
1️⃣ Tajalli Af‘al
2️⃣ Tajalli Sifat
3️⃣ Tajalli Zat
Ketiga tingkatan ini menggambarkan perjalanan ruhani seorang hamba dalam mengenal Allah.
🌿 1. Tajalli Af‘al
Penampakan Perbuatan Allah
Tingkatan pertama adalah tajalli af‘al, yaitu penampakan perbuatan Allah dalam alam semesta.
Pada tahap ini seorang salik mulai menyadari bahwa semua kejadian di alam ini berada dalam kehendak Allah.
Segala peristiwa kehidupan:
hidup dan mati
sakit dan sehat
kaya dan miskin
pertemuan dan perpisahan
semuanya terjadi dalam kekuasaan Allah.
Hal ini selaras dengan firman Allah:
“Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Ash-Shaffat: 96)
Kesadaran ini menumbuhkan sikap tawakal dan ketenangan hati, karena seseorang memahami bahwa seluruh kehidupan berada dalam pengaturan Tuhan.
🌿 2. Tajalli Sifat
Penampakan Sifat-Sifat Ilahi
Tahap berikutnya adalah tajalli sifat.
Pada tahap ini seorang hamba mulai melihat bahwa alam semesta mencerminkan sifat-sifat Allah.
Misalnya:
Keindahan alam mencerminkan sifat Al-Jamil (Yang Maha Indah)
Kasih sayang mencerminkan sifat Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih)
Kebijaksanaan mencerminkan sifat Al-Hakim (Yang Maha Bijaksana)
Pengetahuan mencerminkan sifat Al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui)
Dengan kesadaran ini, alam tidak lagi dipandang sebagai benda mati, tetapi sebagai cermin dari nama-nama Allah.
Banyak tokoh tasawuf seperti Ibn Arabi menjelaskan bahwa alam adalah tempat manifestasi asma dan sifat Ilahi.
Pada tahap ini hati seorang hamba biasanya dipenuhi oleh kagum, cinta, dan rasa syukur kepada Allah.
🌿 3. Tajalli Zat
Kesaksian Ruhani terhadap Kehadiran Allah
Tingkatan tertinggi dalam pemahaman tajalli adalah tajalli zat.
Pada tahap ini seorang hamba tidak hanya melihat perbuatan Allah atau sifat-sifat-Nya dalam alam, tetapi merasakan kehadiran Allah dalam kesadaran batinnya.
Yang dimaksud di sini bukanlah melihat Zat Allah secara fisik, karena Zat Allah tidak dapat dijangkau oleh pancaindra manusia.
Para sufi menyebut pengalaman ini sebagai musyahadah, yaitu kesaksian hati terhadap kehadiran Allah.
Hal ini selaras dengan firman Allah:
“Ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 115)
Pada tahap ini, seorang hamba merasakan bahwa segala sesuatu selalu mengingatkannya kepada Allah.
🌿 Tujuan Hidup dalam Perspektif Tasawuf
Dari pemahaman tentang tajalli dan ungkapan “perbendaharaan yang tersembunyi” tersebut, para ulama tasawuf menarik satu kesimpulan besar:
🌿 Tujuan hidup manusia adalah ma‘rifatullah — mengenal Allah.
Karena itu kehidupan manusia bukan sekadar untuk:
bekerja
mencari harta
mengejar kedudukan
Tetapi untuk:
mengenal Allah
mencintai-Nya
dan kembali kepada-Nya.
Makhluk bukan tujuan akhir, tetapi jalan menuju Sang Pencipta.
🌿 Penutup: Dari Allah, Kembali kepada Allah
Pada akhirnya, seluruh perjalanan spiritual manusia membawa pada satu kesadaran yang sangat mendalam:
🌿 Kita berasal dari Allah, dan kepada Allah kita kembali.
Hidup ini bukan kebetulan.
Bukan tanpa arah.
Dan bukan sekadar perjalanan dunia.
Melainkan sebuah undangan Ilahi:
untuk mengenal-Nya,
untuk mencintai-Nya,
dan untuk kembali kepada-Nya.
Semoga perenungan ini membuka hati kita untuk melihat bahwa di balik seluruh penciptaan terdapat rahasia cinta Ilahi yang sangat dalam.
Dayah ب
Gong •
Tarekat Al-Fatihah Al-Majid
Komentar ()
Tulis komentar →